hari ini satu tahun yang lalu,
alhamdulillah aku menjalani hidup baru
menjalani perjanjian kokoh kemanusiaan dan
keIlahian
semoga jalan hidup diberkahi Allah Swt
dalam mengikuti jalan para nabi---
khususon kanjeng nabi Muhammad Saw.
13-02-12, 09.48
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Senin, 13 Februari 2012
Senin, 06 Februari 2012
Puisi-puisi 1
Do’a
Pepohon menggugurkan dedaun
Pada ranting yang merapuh
Ketika senja gerimis jatuh
Kulihat kilat menyambar langit
Hatiku bergemuruh
Inginku menjadi pohon itu
Dimana dosa berguguran
Menjelang malam
Kaki gunung, 1 Syawal 1419 H
Adakah Engkau
Sketsa alam pada cakrawala tak pernah pupus
Garis ufuk tipis tak pernah putus
Samudra lepas luas tak kenal batas
Gelombang laut airnya tak pernah surut
Seperti itu aku kagum pada-Mu
Meski jiwa ini belum seputih salju
Belum sebening embun di atas daun
Adakah pelabuhan hati
Tempat perahu jiwaku menepi
Kembali saat ombak kehidupan menerjang
Hampir membuat aku karam tenggelam
Ketika langit hitam hanya
Menyisakan
Lengkung bulan sabit
Bandung,
Nyanyian Pagi
---untuk Beni R Budiman (alm)
Sejumput bambu menggigil
Di tepi sebuah kali
Daunnya keperakan sisa cahya merkuri
Tadi malam
Daun hijau kekuningan menyapu bumi
Merunduk menawarkan tetesan embun pagi
Gelucak air selokan
Menambah keindahan
Mengiringi ‘hari yang
Matanya menengok bumi
Di teras depan aku masih sendiri
Membaca diri ditemani secangkir kopi
Dan ketika lirih angin menusuki kulit
Di hati ada pisau mengiris
Pedih
Ledeng, Bandung 1998
Rindu Alam, Rindu Tuhan
Ketika desah air mengusik kalbu
Kulukis wajahmu di tebing berbatu
Kilap daun putih dan kuning bergoyang
Seperti gerak tubuhmu
Pancaran surya dan bau hawa gunung
Adalah kerinduanku pada kampung
Kerinduan pada rumput ilalang
Pada kembang kertas di halaman rumah
Pada ayah-bunda
Pada Engkau dan
Pada yang aku tak tahu
Kota kembang, 1999
Senin, 26 September 2011
Asma Nadia: Penulis Inspiratif Tokoh Perubahan
Menginspirasi Penulis Perempuan
Setiap cobaan yang ditimpakan pada manusia, pasti ada hikmahnya. Kalimat itu kelihatannya memang klise. Tapi selalu saja terbukti kebenarannya. Dan itu pula yang dirasakan oleh Asma Nadia. Sakit yang dideritanya telah menjadikan dia salah satu penulis novel dan buku yang produktif dan inspiratif.
Sewaktu kecil, Asma adalah Asma kecil yang sakit-sakitan. Pernah katanya dia menderita sakit jantung, kemudian sakit paru-paru, bahkan juga pernah gegar otak. Jadi kehidupan Asma kecil adalah kehidupan yang akrab dengan rumah sakit. Karena sakit-sakitan itu pula yang membuat dia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya di IPB.
Lantas apa yang dilakukan saat berada di rumah sakit di RSCM? Membaca buku. Ibunya, yang biasa dia panggil mami, selalu membelikan buku ketika dia harus menunggu antrean di rumah sakit. Asma kadang bertanya dalam hati, dari mana uang untuk membeli buku itu, karena keluarga mereka boleh dibilang keluarga sangat sederhana. Belakangan Asma tahu bahwa ternyata dengan membeli buku itu, maminya mengorbankan makan siang.
Ketelatenan membeli buku itu tak terasa membuat koleksi buku mereka semakin banyak. Agar lebih bermanfaat, keluarga yang tinggal di pinggir rel kereta itu membuat tempat penyewaan buku yang sederhana. Uang sewa dari buku itu dibelikan lagi buku untuk menambah jumlah buku persewaan.
Asma Nadia yang bernama asli Asmarani Rosalba itu meyakini bahwa kebiasaan membaca buku sejak kecil itu secara tak langsung telah menginspirasinya menjadi penulis. Meskipun pada awalnya dia sendiri minder untuk menulis. ‘’Cerpen saya selalu mendapat kritik dari saudara saya,’’ kata Asma yang mempunyai dua saudara, salah satunya adalah penulis kawakan Helvy Tiana Rosa.
Tapi, selain memberi kritikan, Helvy tak henti-hentinya memompa motivasi agar Asma terus menulis. Helvy pula yang memberi nama ‘komersial’ sekarang ini. Nama tersebut berari nama yang menyeru. Menurut Helvy, nama Asmarani Rosalba itu sulit diingat. Karena itulah ia menciptakan nama pena untuk adiknya yang gampang diingat dan gampang diucapkan, Asma Nadia.
Asma mulai menulis serius sejak duduk di bangku SMP. Suatu ketika dia menulis sebuah cerpen yang panjang. Langsung saja cerpen itu dikritik habis saudaranya. Kritik itu dia perlakukan sebagai cambuk, sampai akhirnya cerpen pertamanya berjudul “Surat Buat Assadullah di Surga” dimuat di Majalah Annida pada 1990. Lima tahun kemudian ia mendapatkan penghargaan dari majalah tersebut sebagai juara pertama lomba menulis cerpen islami di tingkat nasional. Juara tersebut diraihnya dua tahun berturut-turut.
Hal tersebut masih belum membuatnya percaya diri dalam menulis. Ia masih merasa bahwa profesi menulis bukanlah profesi yang menjanjikan. Sampai kakaknya, Helvy Tiana Rosa, mengatakan bahwa menulis itu tidak hanya bisa dilakukan sebagai hobi, tetapi juga bisa menjadi media dakwah.
Dari sana Asma memutuskan untuk memberi misi dalam setiap tulisannya. Tulisan-tulisan di awal karier menulisnya memfokuskan diri pada tulisan remaja. Tulisan-tulisan ini mendapatkan berbagai penghargaan, salah satunya adalah dari Mizan Award sebagai pengarang fiksi remaja terbaik pada tahun 2003. Ia juga memperoleh penghargaan dari IKAPI dua tahun berturut-turut, yaitu 2001 dan 2002.
Sampai saat ini sudah 43 buku yang ia terbitkan. Novel terakhir berjudul ‘Rumah Tanpa Jendela’ yang merupakan pengembangan dari cerpennya ‘Rumah Rara’ diangkat menjadi film pada 2011. Sebelumnya, satu novel Asma juga pernah difilmkan, yaitu ‘Emak Ingin Naik Haji’. Buku-buku Asma juga sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Salah satunya adalah buku ‘Emak Ingin Naik Haji’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa India.
Buku, bagi Asma bisa menjadi media untuk melakukan perubahan. Karena itu sampai kapan pun dia tidak akan meninggalkan profesi sebagai penulis. Apalagi dari berbagai pengalaman menunjukkan bahwa buku yang dia tulis, entah itu novel, cerpen atau motivasi, mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Dikutip dari : www.republika.co.id/tokoh-perubahan/landingpage/2010.php
Langganan:
Postingan (Atom)

