Kamis, 09 Februari 2012

Pemuda, Pelopor Kemandirian Bangsa


S.Rahmat Selamet.*

“Peran Strategis Pemuda dalam Mengawal Kemandirian Bangsa”.
Itulah tema dalam seminar terbatas dalam Serah Terima Pimpinan  Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat di Aula Masjid Mujahidin, Kantor PW Muhammadiyah Jawa Barat. Dengan pemateri Husni  Fanani (Ketua DPD KNPI Jawa Barat) dan Zaenal A Budiono (Wakil Staf Ahli Presiden Bidang Komunikasi).
            Menarik dicermati, Ketua KNPI Jabar memiliki pandangan bahwa terjadi perbedaan pandangan antara pemerintah dengan masyarakat dalam memandang Negara yang Gagal. Menurutnya masih adanya rakyat yang miskin, dalam pandangan demontran, itu bisa disebut Negara yang Gagal. Sementara pemerintah tidak demikian. Baginya masih adanya rakyat yang miskin itu menunjukan Negara yang Gagal. Tetapi keliru juga jika menyatakan tanggungjawab dan kesalahan pemerintah saja. Karena negara ini bukan milik pemerintah, tetapi milik dan tanggungjawab bersama seluruh anak bangsa ini. Dalam hal ini peranan pemuda amat strategis, karena masa depan negeri ditentukan oleh pemuda hari ini. Bahkan ancaman negeri bubar, bukan omong kosong, dengan mengutip pandangan populer bahwa usia 70 tahun adalah ukuran bertahan atau bangkrutnya sebuah bangsa. Maka bangsa ini sedang mendekati usia 70 tahun dari kemerdekaannya. Apakah ini mendekati kebangkutan ataukah mampu bertahun untuk kemudian memasuki zaman kemajuan.
            Sedangkan Zaenal A Budiono menyatakan sikap optimisnya, dengan karakter bangsa ini yang memiliki sifat positip yaitu kreatif dan ulet. Terbukti krisis ekonomi tahun 1997-1998 tidak membuat bangsa ini jatuh terpuruk. Tetapi bisa bertahan dan bangkit kembali. Usaha ekonomi menegah dan kecil justru yang mampu bertahan. Berbeda dengan di negeri lain seperti Afrika, yang dilanda krisis, dan terpuruk karena tidak adanya daya kreatif dan inovatif. Bermunculannya industri kreatif, terutama di Bandung, yang rata-rata melibatkan usia angkatan muda (produktif) menunjukan harapan kebangkitan ekonomi bangsa ini. Dan pilarnya adalah ekonomi kecil dan menengah (UKM).
            Tentu saja kemandirian bangsa ini, dalam hal ini bukan semata dalam aspek ekonomi. Tetapi dari berbagai aspek. Dan ekonomi biasanya itu yang menjadi aspek penting dalam kehidupan. Karena bagaimana pun kemandirian ekonomi itu menjadi  kekuatan pada aspek lainnya. Dan kemandirian ekonomi ini bisa dibangun dengan munculnya pemuda yang berjiwa entrepreneur, yaitu memiliki jiwa kreatif dan inovatif. Sedangkan dalam mempertahankan serta memajukan bangsa  masa depan, tentulah dibutuhkanpemuda yang berjiwa negarawan, bukan sekedar memikirkan pribadi, kelompok atau golongan. Pemuda yang berjiwa nasionalis. Tetapi bukan nasionalis chauvinis (sempit), tetapi berjiwa nasionalis yang terbuka bagi kemajuan.
            Kata kunci, jiwa entrepreneur. Jiwa negarawan. Jiwa Mandiri. Adalah kata kunci kemajuan bangsa ini, yang harus digerakan dipelopori oleh angkatan pemuda. Dengan optimis, pemateri menyatakan, jika di zaman kolonial Belanda pemerintah Belanda menganggap “lelucon inlander” ketika bangsa ini menyatakan ingin merdeka. Tetapi toh kemudian menjadi kenyataan, bangsa ini bisa merdeka dari kolonialisasi mereka. Begitu pun hari ini, sepertinya “lelucon” atau “mimpi semu” menyatakan bangsa ini akan jadi bangsa besar, maju dalam pentas global; karena menatap betapa banyak problem bangsa yang bisa membuat kita pesimis. Tetapi bagi yang yakin dan optimis, niscaya jalan keluar itu ada bagi kemajuan bangsa ini. Dan kalangan yang harus hidup tetap yakin dan optimis maju adalah para pemuda. Karena para pemuda inilah yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa masa depan.
Peran strategis, (role); Pemuda
Peran strategis pemuda, dalam lintasan sejarah. Bangsa bagaimana pemuda mempelopori kemerdekaan. Pemuda mendorong Founding Father Sukarno-Hatta untuk segera memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bagaimana pula sebelumnya, para pemuda yang melahirkan konsep INDONESIA. Yang terkristal dalam KONGRES PEMUDA 1928 yang melahirkan SUMPAH PEMUDA. Bukankah ini cikal bakal Negara Kesatuan Republik Indonesia ini.
Dalam konteks, umat Islam, ajaran  yang dibawa nabi Muhammad saw lebih 1400 tahun lalu; tidak akan sampai ke masa kini jika tidak ada peranan para pemuda. Bukankah yang sering disebut para sahabat nabi saw itu adalah mayoritas adalah para pemuda. Mereka para pemuda, yang usianya saat itu rata-rata dibawah 40 tahun.
Secara biologis dan intelektual, kalangan pemuda adalah kalangan yang masih energik (semangat) dan berpikir kritis untuk kemajuan lingkungan, umat dan bangsanya. Sehingga pantas jika muncul pepatah, “ Subhanul yaum rijalul ghod” (pemuda hari ini pemimpin masa depan).
Pemuda Pelopor
Catatan historis, jangan sampai dimaknai mati, berhenti sebagai peristiwa masa lalu. Jangan sampai terjadi ungkapan romantisme sejarah masa lalu. Karena hakekat sejarah bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi bercermin ke masa lalu untuk membuat sejarah di masa depan. Seperti semangat surat Al Hasyr: 18 :” Hendaklah tiap diri memperhatikan, apa yang telah disiapkannya untuk hari esok”.
Dengan bercermin pada sejarah gerakan pemuda, dalam konteks keumatan dan kebangsaan; maka patutlah kita bangga dengan para pendiri bangsa dan negara ini. Mereka telah menorehkan karya besar, yang kini bisa kita nikmati buahnya (kemerdekaan). Dan sebagai pemuda masa kini, tanggungjawab kita adalah mengisi maha karya mereka dengan catatan karya terbaik yaitu menjadikan bangsa ini bisa tampil maju, mandiri bermartabat sebagaimana dicita-citakan pada awal pendiriannya.
Dalam lintasan sejarah, pemuda identik dengan pelopor. Kepeloporannya, dalam membangun kemerdekaan bangsa ini. Pemua pelopor. Pemuda identik dengan sikap yang aktip dan kreatip dalam mencari solusi atas problematika yang dihadapi bangsanya.
Kemandirian  Bangsa
Jika di masa lalu, para pemuda bisa berkarya untuk bangsanya dengan kemerdekaan. Maka pemuda masa kini pun tidak mustahil menghasilkan karya besar untuk bangsanya, sehingga bangsa ini keluar dari krisis persoalan yang melilitnya. Tentunya modal dasarnya adalah kekuatan mental pemuda. Semangat dan kreativitas serta berjiwa inovatif dalam mencari solusi atas permasalahan bangsa ini. Kunci kemajuan bangsa ini adalah kemandirian. Kemandirian dalam segala aspek bidang kehidupan. Kemandirian ini tidak bisa diraih tanpa kekuatan semangat dan kekuatan mental. Cara pandangan (mind) pemuda dalam memajukan bangsa ini adalah kunci utamanya. Harga diri, semangat cinta tanah air, cinta nasionalisme, adalah modal utamanya. Salah satunya anak bangsa, khususnya pemuda harus melakukan revitalisasi semangat cinta tanah air, cinta kebangsaan (dalam arti luas) dengan menghargai karya anak bangsanya sendiri. Cinta produk dalam negeri, cinta hasil karya sesama anak bangsa. Maka pemuda bisa mengawal kemandirian bangsa ini, dengan syarat pemuda ini bisa menghargai hasil karya anak bangsanya sendiri. Tidak minderwarneg (minder), apalagi bangga dengan produk bangsa lain. Jika karya anak bangsanya masih dibiarkan tak dihargai, alih-alih didorong dimajukan kuantitas dan kualitas, malah dihinakan sendiri; ini harapan kemandirian bangsa ini hanyalah masih “impian” semata.
*penulis wakil sekretaris PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Barat Bidang Dakwah & Kajian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SILAHKAN ANDA BERKOMENTAR, NAMUN TETAP JAGA KESOPANAN DENGAN TIDAK MELAKUKAN KOMENTAR SPAM

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.